Tampilkan postingan dengan label Energi. Tampilkan semua postingan

Tujuh Chakra Utama


CHAKRA adalah sebuah kata berasal dari bahasa Sansekerta diartikan "Roda yang berputra". Mereka yang dapat melihat Chakra menggambarkan chakra seperti roda berputar yang mempunyai cahaya yang bersinar dan menyebar keluar. Kemegahan warna memancar mencerminkan kekuatan bhatin seseorang, kejelasan pikiran dan kemurnian sikap seseorang. Chakra adalah pusat energi yang memiliki banyak kekuatan mental dan spiritual. Ketika kita mengaktifkan dan menyeimbangkan chakra kita, kita merangsang pelepasan optimal energi yang kuat, yang dapat menimbulkan perasaan baik untuk kesehatan, juga meningkatkan mental yang seimbang.

Dalam tubuh, kita memiliki titik pusat energi yang digunakan secara sadar atau tidak sadar sepanjang waktu sehingga mereka mempengaruhi sikap kita, persepsi kita terhadap dunia dan potensi diri untuk memperoleh kebahagiaan dan kesehatan yang baik. Titik-titik fokus yang dimagsud adalah Tujuh Chakra tersebut. Chakra yang baik dan berputar dengan seimbang mempengaruhi vitalitas, kesehatan mental kita. Kesadaran kita pada spiritual akan meningkat jika kita bisa bermeditasi pada chakra atau membangkitkan Chakra dengan baik.

Baca selengkapnya »

0

Pelatihan Tubuh dan Pembentukan Sikap Mental


Sikap-tubuh (asana) dalam latihan hendaknya mantap dan nyaman. Dengan lepasnya ketegangan tubuh dan mental, transformasi batin dimungkinkan mencapai ketidak-terbatasan. 
Darisana bentuk-bentuk batin dualistik (dvandva) tak lagi mengganggu. [YS II.46 - II.48]

Patanjali memang tidak secara khusus menyebutkan ataupun merekomendasikan sikap-tubuh tertentu, namun banyak penekun dan Guru spiritual menemukan manfaat besar dari sikap-tubuh padmãsana (sikap duduk bagai bunga lotus), siddhãsana (sikap duduk para orang suci), swastikãsana (sikap duduk bagai simbol swastika) dan sukhãsana (sikap duduk sesuka hati, namun tetap bersila dengan tulang-punggung tegak). Banyak yang menyebutkan bahwa padmãsana-lah yang paling utama diantaranya. Yang perlu untuk digunakan pegangan dalam duduk bermeditasi adalah, kepala, leher dan tubuh dipertahankan agar tetap dalam satu garis lurus dan tegak. Tidak condong ke depan, ke belakang atau ke samping. Pilihlah satu sikap duduk yang paling sesuai bagi Anda, dan jangan setiap kali merubah sikap duduk. Pertahankan satu sikap duduk dengan mantap.

Secara khusus, Hatha Yoga —atau juga disebut Yogãsana—mengajarkan dan melatih semua sikap-sikap tubuh, yang amat bermanfaat bagi kesehatan dan kelenturan tubuh, dan tidak kita bicarakan secara khusus disini. Sikap-sikap tubuh ini sangat kondusif di dalam membentuk atau menghadirkan sikap-mental yang sesuai dengan yang diperlukan dalam melaksanakan japa dan langkah selanjutnya, yakni pranayama dan dhyana. Disamping kesehatan tubuh, pembentukan sikap-mental merupakan tujuan utama dari laku asana ini. Bahkan Sri Swami Sivananda menyatakan “bila tak dapat melaksanakan asana dengan sempurna, tidak akan dapat melakukan dhyana dengan baik”.

Sikap dan kondisi tubuh, ekspresi wajah, diketahui sebagai punya kaitan erat sekali dengan kondisi mental. Ambil contoh anjuran“keep on smiling” misalnya. Adakah landasan ilmiah —selain empiris—dari anjuran ini? Ternyata ada; seorang psikolog Jerman, Fritz Stark, pernah mengadakan penelitian ilmiah terhadap senyum, dalam kaitannya dengan pengkondisian batin kita. Menurutnya, membuat senyuman dengan otot-otot wajah, menipu otak untuk merespon dengan perasaan yang relevan. Pernyataan ilmiahnya ini, ternyata juga dikuatkan lagi oleh David Lykken —pensiunan profesor psikologi dari University of Minnesota, Minneapolis USA— dengan menyatakan “Emosi merupakan perpaduan antara perasaan internal dengan respons fisik yang memberikan umpan-balik pada otak kita”.  

Sebetulnya, hingga saat ini memang telah banyak bukti-bukti sebagai hasil empiris perseorangan, perkumpulan Yogãsana maupun penelitian-penelitian ilmiah tentang nilai manfaat langsungnya secara fisik maupun psikis. Asana tertentu —secara phisioterapis— dapat menyembuhkan penyakit tertentu, bahkan Yogãsana diyakini juga sebagai Yoga Kesehatan. Kondisi tubuh yang sehat, otot-otot yang lentur, tidak tegang, menimbulkan rasa nyaman dan mengurangi kegelisahan mental. Dan ini amat membantu dalam tercapainya keterpusatan saat berlatih meditasi (dhyana). “Kalau Anda dapat duduk hanya untuk satu jam saja, Anda dapat memusatkan pikiran dan merasakan kesentosaan dan kebahagiaan”, papar Sri Swami Sivananda dengan amat meyakinkan.

Sebagai pembentuk sikap-mental, dan bukan semata-mata sikap-tubuh layaknya senam dan bentuk-bentuk olah-raga lainnya, asana sesungguhnya telah terbentuk ketika Yama-Niyama benar-benar diterapkan di dalam kehidupan. Di Nusantara dikenal—apa yang disebut dengan—sasana, disiplin mental dan prilaku yang pantas. Pemposisian asana sebagai tahapan ketiga—setelah Yama dan Niyama—seakan-akan mengisyaratkan bahwa, ‘tiada sadhana yang terlaksana dengan baik, tanpa didasari oleh sikap-mental yang baik’. Makanya, dalam yogasadhana, Yama-Niyama tetap menjadi kunci keberhasilan. Pelaksanaan tiga aspek dari Niyama saja—yakni Tapa, Svadhyaya dan Isvarapranidhana—sudah layak diperhitungkan sebagai melaksanakan Kriya Yoga.

0

KRIYA YOGA, MENGAWALI PENDAKIAN SPIRITUAL


KRIYA YOGA, MENGAWALI PENDAKIAN SPIRITUAL. Memasuki Sãdhana Pãda, berarti memasuki paparan spiritual praktis dalam rangka mencapai Samãdhi, dalam berbagai kategori, seperti yang dipaparkan dalam Samãdhi Pãda sebelumnya. Dalam Samãdhi Pãda kita telah disajikan idealisasi-idealisasi terpenting dari Yoga untuk dicapai; dan kini, Patanjali mulai memaparkan bagaimana mencapai semua itu.

Sãdhana Pãda, sebagai paparan praktis praktek spiritual, dibuka oleh Patanjali dengan Kriya Yoga melalui dua sutra berikut.

Hidup sederhana dengan penuh kedisiplinan (tapa), mempelajari ajaran-ajaran suci secara mandiri (svadhyaya), dan penyerahan diri, kerja dan hasil kerja dalam pengabdian kepada-Nya (Isvarapranidhana) guna meraih penunggalan, disebut Kriya Yoga.  
Ini dilaksanakan guna melenyapkan kléša dan mencapai Samãdhi. 
[YS II.1 dan II.2]

Tapa, Svadhyaya dan Isvarapranidhana merupakan tiga sadhana utama dari Kriya Yoga. Swami Satya Prakas Saraswati menyebutnya sebagai ‘Yoga Pendahuluan’. Kenapa disebut 'Pendahuluan'? 
Ketiga sadhana utama yang termaktub dalam Niyama hanyalah tiga dari lima disiplin mental Niyama. Seperti dimaklumi —dan akan dijelaskan pada sutra-sutra berikutnya—Niyama merupakan tahapan kedua dalam delapan tahap Yoga-nya Patanjali, dan hanya diperuntukkan sebagai pembentuk sikap batin yang merupakan landasan moral dari seorang Raja Yogi. Bila hanya tiga dari disiplin moral-spiritual (brata) saja sudah layak memperoleh sebutan Kriya Yoga, dapat dibayangkan betapa tingginya ajaran Ashtanga Yoga yang dipersembahkan Patanjali kepada umat manusia ini.

Kriya Yoga diperuntukkan guna melenyapkan kléša atau kekotoran batin, yang merupakan hambatan-hambatan utama dalam praktek Yoga. Batin yang telah lenyap kekotorannya menjadi suci atau murni (sauca). Sementara itu sauca sendiri juga merupakan salah-satu disiplin dalam Niyama. Ada kepaduan langkah pengembangan batin yang menyeluruh, hanya dalam praktek Niyama saja. Kendati disebut sebagai ‘pendahuluan’ itu sudah dikategorikan sebagai Yoga. Di Barat, Kriya Yoga ini dipopulerkan oleh Sri Paramahamsa Yogananda. Mengenai kléša akan dibicarakan pada sutra II.3 sampai dengan II.9.

Menurut Shrii Shrii Anandamurti, Tapa diterapkan dengan menahan kesulitan-kesulitan fisik maupun mental demi kebahagiaan orang atau makhluk lain dan melakukan pengabdian tanpa pamerih. Dikatakan juga bahwa Tapa, sebagai pengabdian tanpa pamerih sendiri, ada empat jenis ragamnya, yakni: 
• Bhuta Yajña —pengabdian untuk kepentingan alam ciptaan. 
• Pitra Yajña —pengabdian kepada nenek-moyang atau leluhur. 
• Adhyatma Yajña —pengabdian lewat jalan spiritual. 
• Nr Yajña atau Manusa Yajña —pengabdian untuk kepentingan sesama manusia. 
Jadi Yajña, persembahan suci yang tulus ikhlas ini, juga dimaknai sebagai pelaksanaan Tapa oleh guru besar pendiri Ananda Marga itu. Pandangan ini ternyata sejalan dengan wejangan Sri Krishna dalam Bhagavad Gita IV.28: “Ada yang beryajña dengan harta-benda miliknya (drawya yajña), beryajña dengan Tapa (tapa yajña), beryajña dengan Yoga (yoga yajña) dan yang lainnya ada pula yang beryajña dengan Svadhyaya (svadhyaya yajña), serta dengan Jñana (jñana yajña); demikianlah mereka yang taat melaksanakan disiplin hidup kerokhanian (vrata).” Dua sutra pembukaan tadi ternyata memperoleh dukungan kuat dari Bhagavad Gita; bentuk-bentuk persembahan dalam Isvarapranidhana-pun dipaparkan, sebagai praktek langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Bhagavan Sathya Narayana, dalam “Jñana Vahini”, membedakan Tapa atas 3 hal, yakni: Tapa Mental, Tapa Fisik dan Tapa Pembicaraan. Pembagian dan penjelasannya tentang ketiga hal yang di-tapa-kan ini, amat mirip dengan konsep etika-moral Hindu, Trikaya Parisuddha, yang sudah tak asing lagi di Nusantara, terdiri dari: 
• pensucian pikiran (manacika), 
• pensucian ucapan (wacika) dan 
• pensucian perbuatan (kayika). 
Ini merupakan upaya pensucian integral terhadap tiga modus utama perbuatan. Dalam Trikaya Parisuddha secara inklusif terangkum hampir semua landasan moral-etik Yoga, Yama-Niyama. Ia juga mewakili pelaksanaan tiga dari Jalan Utama Beruas Delapan dari Buddhisme, yakni: Pikiran Benar (sammã-sankappa), Ucapan Benar (sammã-vaca) dan Perbuatan Benar (sammã-kammanta). Secara praktis, membiasakan tiga etika-moral-spiritual (abhyasa) ini mengantarkan pada vairagya dan viveka, yang akan amat diperlukan demi terjaminnya pencapaian tujuan akhir.

Kena Upanishad menyebut Tapa sebagai salah-satu tiang Brahmavidya (Pengetahuan Ketuhanan), disamping Dama (pengekangan diri) dan Karma (kegiatan dalam kebajikan). Dalam Prasna Upanishad-pun Tapa mendapat tempat istimewa dengan ditekankannya secara berulang-ulang. Swami Satya Prakas Saraswati menyebutkan toleransi, kesabaran dan latihan yang terus menerus dengan tekun sebagai tiga aspek dari Tapa, yang mematangkan seorang siswa spiritual (sadhaka). Setiap usaha untuk mencapai pengalaman duniawi maupun transenden merupakan Tapa. Hanya dalam artian yang terbatas sajalah Tapa diartikan sebagai kesederhanaan. Disebutkan pula, secara menyeluruh Tapa dilakukan bukan saja pada lima indria sensorik dan lima indria motorik, akan tetapi juga dilakukan bagi sikap mental dan daya vital (prana). Jadi, Tapa merupakan upaya pensucian menyeluruh, lahir maupun batin. Manusmrti —kitab suci Smrti yang hingga kini masih paling sering diacu dalam jenisnya—juga menyebutkannya demikian.

Di dalam Manusmrti atau Manava Dharmasastra Tapa dan Brata dipaparkan secara panjang lebar dalam banyak sloka-slokanya. Beberapa diantaranya, yang khusus menyangkut Tapa pada adhyaya XI, dikutipkan berikut ini.

Para Rshi mengendalikan diri beliau dengan hidup hanya dari buah-buahan, umbi-umbian dan udara, beliau mengarungi triloka bertemu dengan makhluk bergerak maupun tidak bergerak, hanya melalui kesucian Tapa. 
Apapun yang sukar untuk dilalui, apapun yang sukar untuk dicapai, apapun yang sukar untuk diperoleh, apapun yang sukar untuk dilakukan, semuanya dapat dicapai dengan kesucian Tapa, karena Tapa mempunyai kekuatan untuk melintasinya. Mereka yang telah melakukan dosa besar dan beberapa kesalahan lainnya, dapat dibebaskan dengan melakukan Tapa. Serangga, ular, ngengat, kumbang, burung dan makhluk lainnya, berhenti bergerak dan mencapai surga hanya karena Tapa-nya. Apapun dosa-dosa yang telah diperbuat oleh seseorang melalui pikirannya, perkataannya ataupun perbuatan-perbuatannya, semua dapat dimusnahkan dengan segera melalui Tapa-nya yang teguh, terjaga bak hartawan menjaga kekayaannya. Para Dewa-Dewa menerima setiap persembahan para Brahmana, yang telah disucikan oleh Tapa-nya, akan menerima pahala dan dikabulkan semua permintaannya. Yang Maha Kuasa, Hyang Prajapati, menciptakan lembaga suci itu melalui Tapa-Nya; demikian pula halnya dengan para Rshi, menerima wahyu Veda karena Tapa mereka. Para Dewa-Dewa melalui Tapa-nya kembali ke alam kesucian; demikianlah keutamaan dari Tapa." [MDs. XI: 237, 239, 240, 241, 242, 243, 244 dan 245]

Dalam banyak pustaka suci dan ajaran mental-spiritual Tapa berkait erat dengan Sauca, pensucian lahir-batin (yang dibicarakan nanti dalam pembahasan sutra II.40 dan II.41); dan menduduki posisi fundamental dalam praktek kehidupan spiritual. Tapa berkaitan langsung dengan kehidupan suci itu sendiri. Bahkan, para rshi di jaman dahulu menerima wahyu-wahyu melalui kehidupan suci ini.

Svadhyaya adalah upaya mempelajari kitab-kitab suci atau kitab-kitab spiritual-filosofis secara mandiri, guna memperoleh pengertian yang sejelas-jelasnya tentang hakekat yang terkandung di dalamnya. 

Mempertanyakan (vicara), melakukan analisa-analisa penalaran (vitarka), maupun perenungan-perenungan mendalam serta perbandingan dengan kejadian sehari-hari terhadapnya, merupakan beberapa langkah dalam pembelajaran secara mandiri yang amat bermanfaat dalam memberi pengertian serta menumbuhkan pemahaman yang baik dan kian mendalam. Yang pasti, svadhyaya hendaknya tidak hanya diartikan sebagai membaca saja, belajar dari buku-buku saja, mengingat setiap bait sloka atau sutra, bahkan setiap kata dari kitab-kitab suci atau kitab-kitab spiritual-filosofis—seperti Yoga Sutra ini misalnya—mempunyai makna yang padat dan dalam. Mereka tak dapat dipahami dengan baik, bila hanya mengartikan secara harfiah, seperti membaca koran, atau buku-buku pelajaran sekolahan saja.

Mereka yang hanya berpegang dan terpatok pada arti harfiah, dan memperlakukan kitab-kitab ajaran hanya seperti buku-buku pelajaran sekolahan, dapat dipastikan akan memperoleh pemahaman yang amat dangkal, sebatas kata-kata saja. Cara pembelajaran seperti inilah yang punya andil besar di dalam melahirkan sikap dogmatis, yang menjurus pada fanatisme. Dalam masyarakat heterogen, global dan terbuka seperti sekarang ini, sikap-sikap dogmatis dan fanatis bisa amat membahayakan masyarakat luas dan juga penganutnya. Bukti-bukti tentang fenomena ini, dapat kita lihat dengan mudah di sekeliling kita.

Dalam proses pembelajaran secara mandiri ini, ‘mengetahui’ adalah yang mula pertama diperoleh. Apa yang kita ketahui harus dimatangkan lagi sehingga kita menjadi benar-benar ‘mengerti’. Dari sinilah tumbuh pengertian-pengertian tentang apa yang diketahui tersebut. Bersama dengan berjalannya waktu, mendengar, membandingkan, bertukar-pikiran atau berdiskusi dengan mereka yang telah lebih dahulu mengetahui atau mengerti, apalagi berpengalaman, secara akumulatif akan membentuk ‘pengertian’ yang semakin baik, lengkap dan kian mendalam tentang apa yang kita pelajari. Melalui perenungan-perenungan serta pembuktian-pembuktian seperlunya, pengertian kita lambat laun meningkat menjadi ‘pemahaman’. Nah....dengan semakin halus dan mendalamnya ‘pemahaman’ kita, pengetahuanpun semakin mengembang dengan sendirinya. Yang pasti, dalam Yoga Sutra ini Patanjali telah telah menegaskan bahwa ‘pengamatan langsung (pratyaksa), penyimpulan (anumana) dan penegasan para bijak dan kitab-kitab ajaran (agama), membentuk suatu rangkaian metode penalaran yang baik’. 

Isvarapranidhana adalah penyerahan diri kepada Isvara (Tuhan), dengan menerima sepenuhnya serta menjadikan-Nya sebagai satu-satunya perlindungan. Bahkan disebutkan, nanti dalam sutra II.45, bahwa pencapaian Samãdhi merupakan siddhi dari praktek Isvarapranidhana. Menurut Swami Satya Prakas Saraswati, ia merupakan suatu istilah spiritual-teknis khusus ciptaan Patanjali, yang tidak disebut-sebut oleh Maharshi Kapila dalam Sankhya Darsana-nya.

Bilamana ketiganya diterapkan dengan baik dan benar, walaupun ia disebut sebagai “Yoga Pendahuluan”, memberikan nilai manfaat spiritual yang tinggi kepada penekunnya. Ia menumbuhkan sikap batin yang kokoh, mantap, untuk mulai melanjutkan ke jenjang-jenjang berikutnya dengan pemahaman yang baik, dan tanpa disertai sikap-sikap dogmatis dan fanatis. Iapun mengarahkan penekun menjauh dari sikap ekstrim atau mempertontonkan ke-ekstrim-an pada khalayak.

Dalam Jñana Vahini, Bhagavan Sathya Narayana bahkan menyatakan bahwa melalui Tapa (dalam arti luas) saja, seseorang dapat mencapai tingkat yang tertinggi. Bukan main memang kekuatan yang dapat dihasilkan Yoga guna mencapai realisasi Diri-Jati dan Kebebasan.

Dipublikasikan di majalah Media Hindu No. 15 — Edisi Mei 2005

0

Klasifikasi Penyakit


Oleh : Ngurah Nala 
Universitas Hindu Indonesia


Setiap orang sebagai manusia pasti pernah sakit. Mengapa orang menjadi sakit? Ada banyak penyebab yang menjadikan seseorang itu jatuh sakit. Dan berbagai penyebab itu berdasarkan atas asal penyebab penyakit, maka penyakit dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, yakni:
1. Adhyatmika 
Adhyatmika merupakan penyakit yang berasal dan dalam tubuh sendiri, termasuk penyakit psiko-somatik. Sel, organ atau sistema yang ada di dalam tubuh manusia mengalami kelainan bentuk atau kerusakan, sehingga fungsinya tidak normal. Kelainan ini bukan disebabkan oleh faktor yang datang dan luar tubuh, tetapi memang sudah terjadi tanpa ada campur tangan dan pihak luar tubuh. Penyakit psikosomatik merupakan penyakit yang timbul akibat adanya gangguan pada pikiran, mengakibatkan organ tubuh sakit. Misalnya pikiran selalu kalut, dapat menimbulkan penyakit lambung atau maag.
2. Adhibhautika 
Adhibautika adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor kausa fisik dan luar tubuh, seperti bibit penyakit yang menyerang tubuh, atau diserang oleh orang dengan sabit sehingga luka. Teriris pisau, terpukul palu, tertusuk paku, tersiram air panas, kulit terbakar, merupakan penyakit akibat terkena benda fisik ketika sedang bekerja. Demikian pula luka, cedera, atau patah tulang akibat kecelakaan, termasuk di dalam kategori ini.
3. Adhidaivika 
Adhivaivika merupakan penyakit yang berasal dan takdir, pengaruh planet, musim, dan sebagainya. Penyakit ini muncul sering tidak diketahui penyebabnya. Sehingga dikatakan sebagai takdir. Tiba-tiba badannya panas tanpa diketahui penyebabnya.

Sub-klasifikasi 
Bila disimak lebih rinci lagi maka ada 3 sub-klasifikasi dan penyakit adhyatmika, yang kausanya berasal dan dalam tubuh sendiri, yakni:
a. Adibalaja adhyatmika merupakan penyakit keturunan. Penyakit jenis ini di dalam dunia kedokteran modern disebut penyakit herediter. Penyakit ini diperoleh dari leluhur atau orang tuanya. Misalnya penyakit kencing manis, buta warna, bisu tuli (Bali = kolok) akan menurun kepada anak cucunya.
b. Janmaja adhyatmika adalah penyakit yang diperoleh ketika berada di dalam kandungan. Penyakit jenis ini di dalam dunia kedokteran modern disebut penyakit kongenital. Misalnya cacat tubuh, atau kelainan hormonal, karena kondisi alat kandungan ibu ada kelainan atau akibat ibu mengkonsumsi obat-obatan tertentu yang membahayakan janin. 
c. Doshaja adhyatmika merupakan penyakit akibat kenaikan dosha. Yang dimaksud dengan dosha di sini adalah tiga unsur dosha atau tri dosha yang selalu berada di dalam tubuh manusia. Ketiga dosha tersebut adalah vatta, pitta dan kapha (unsur angin, api, dan air).

Penyakit dapat pula diklasifikasikan sebagai akibat dari gangguan tri dosha, yaitu:
1. Nanatmaja dosha adhyatmika 
Penyakit yang disebabkan oleh adanya gangguan pada salah satu atau dua unsur tri dosha tertentu. Misalnya : kelumpuhan yang hanya disebabkan oleh vatta atau vayu. 
2. Samaniaja dosha adhyatmika 
Penyakit yang muncul dapat pula disebabkan oleh karena adanya gangguan pada ketiga unsur tri dosha.
Karena berbeda penyebab dan penyakitnya maka dengan sendirinya jenis pengobatannyapun bervariasi dan satu penyakit ke penyakit yang lainnya.


Tehnik Meditasi Untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri

Pada masa sekarang ini banyak orang yang mengalami krisis kepercayaan diri dalam kehidupan sehari-hari. Kepercayaan diri adalah adalah percaya diri sendiri tetapi tidak berlebihan atau mengakui kemampuan diri sendiri untuk berbuat sesuai dengan harapan yang kita inginkan. Rasa percaya diri juga berhubungan erat dengan pergaulan. Orang yang tidak memiliki kepercayaan diri akan sukar sekali untuk masuk dan bersosialisasi dengan lingkungan social sekitarnya.

Dalam konteks ini manusia harus bisa berinteraksi dengan sesamanya asal jangan terlalu berlebihan sehingga menimbulkan sifat arogan. Kepercayaan diri sebenarnya berasal dari pribadi setiap manusia dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Kepercayaan diri itu berbeda-beda sesuai dengan karakter seseorang. Dalam jaman sekarang ini kepercayaan diri sering dilebih-lebihkan dan hasilnya menjadi istilah yang sering digunakan anak muda sekarang ‘Narsis’ dan ‘Lebay’.

Berikut ini bagi anda yang memiliki rasa percaya diri yang kurang psikologipsikis.blogspot.com akan memberikan sedikit tehnik latihan yang mudah-mudahan bisa meningkatkan kembali kepercayaan diri anda :

·         Duduk santai diatas kedua tumit dan harus menggunakan alas lantai
Tangan kiri dengan telapak tangan terbuka menghadap keatas/langit, diletakkan di atas telapak tangan kanan dimana ujung kedua jempol tangan saling menyentuh.
·         Mata tertutup
·         Tarik nafas panjang, buang nafas secara perlahan-lahan lewat hidung dan menyadari proses pernafasan tersebut selama beberapa menit
·         Setelah itu kumpulkan sebanyak mungkin saliva (ludah) dari bagian terdalam mulut dengan lidah
·         Secara pelan-pelan telanlah ludah yang terkumpul itu sambil dihayati proses penelanan tersebut sebagai suatu pembuangan sifat-sifat jelek yang tidak anda inginkan (termasuk rasa rendah diri/tidak perrcaya diri)
·         setelah menelan ludah, duduk diam sejenak dan diam dan perhatikan jalannya nafas masuk dan keluar
·         Ulangi latihan tersebut di atas 3 – 9 kali
·         Setelah selesai latihan tersebut, maka ucapkanlah dalam hati dan hayati benar-benar kata kata ini

“Aku sadar bahwa kebahagiaan itu asalnya dari diriku sendiri dan aku dapat merasakannya dengan mudah dan gampang, apapun yang menghalangiku untuk maju akan mundur dengan sendirinya…”

Terapkan latihan ini, semoga latihan diatas bisa membantu anda mengatasi rasa kurang percaya diri anda.

0

Kundalini


Kundalini adalah suatu kekuatan atau energi didalam diri kita yang tidak aktif dan masih tertidur. Kundalini juga berarti jalur atau jalan naik dari titik asal sampai ketujuannya, jalur tersebut berada pada tubuh eterik, namun berhubungan dengan tubuh fisik disepanjangg tulang punggung mulai dari tulang ekor sampai ubun-ubun. Dimana bila dibangkitkan, dapat membawa anda ke Surga Kebahagiaan, atau kedalam neraka yang tidak dapat dibayangkan kesengsaraannya.

Kebangkitan kundalini bisa terjadi karena memang sengaja dibangkitkan atau terjadi secara tidak sengaja sebagai efek samping dari Yoga, Meditasi, ketenangan, dll. atau bawaan sejak lahir, cinta yang tak tersalurkan, akibat kesedihan yang mendalam, sakit panas yang tinggi, obat terlarang (narkoba). Kebangkitan kundalini dapat juga terjadi tanpa adanya sebab-sebab yang jelas.

Kundalini dapat dibangkitkan karena teknik-teknik pembangkitan, atau dapat terjadi karena :
•Faktor bakat bawaan sejak lahir,
•Membaca Mantera,
•Selibat,
•Meditasi, Yoga, Pentenangan, dll.
•Teknik Pernapasan,
•Cinta yang tak tersalurkan,
•Akibat kesedihan yang mendalam,
•Sakit panas yang tinggi,
•Obat terlarang ( narkoba ),
•Kecelakaan.
•Kebangkitan Kundalini dapat juga terjadi tanpa adanya sebab-sebab yang jelas.

Bila Kundalini seseorang telah bangkit tanpa bimbingan Guru yang Waskita, yang sudah mengetahui seluk beluk Kundalini, maka pada sebagian besar orang, dapat mengalami hal-hal yang merugikan kesehatan fisik dan mental, yang biasanya disebut Kundalini Syndrome.



Bola Energi

TENTANG BOLA ENERGI

Pada dasarnya setiap manusia sudah mempunyai daya prana walaupun dia tidak pernah belajar seluk beluk prana. Cuma dia tidak tahu cara menggunakanya dan cara memperbesar aliran prana. Cara yang paling mudah untuk merasakan hawa prana adalah dengan melatih sistim bola energi. Istilah bola energi sendiri muncul dipopulerkan oleh praktisi reiki. Walaupun dalam aliran prana tidak pernah memunculkan istilah bola energi,para praktisi prana juga telah melatih sistem itu.Untuk merasakan bola energi cukup mudah tanpa penyelarasanpun langsung bisa.

CARANYA:
1.     GOSOK2KAN ANTARA TELAPAK TANGAN KANAN DAN KIRI untuk membuka aliran prana.
2.     DUDUK RILEK BEBAS DIKURSI DILANTAI JUGA BOLEH.LETAKAN KEDUA BELAH TELAPAK TANGAN SALING BERHADAPAN KIRA2 JARAKNYA 10CM. jangan kaku rilek saja.
3.     GERAKAN KEDUA TELAPAK TANGAN DG RILEK SEOLAH MAU DIADU ANTARA TELAPAK TANGAN KANAN DAN KIRI.Ingat telapak tangan jangan ngotot dan jangan saling bersentuhang.Antara telapak tangan kanan dan kiri digerakan unt saling mendekat tapi setelah agak dekat jauhkan lagi dg pelan2 .Dekatkan lg dg pelan2 dan jauhkan dg pelan2 bgt seterusnya.
4.     APA YANG ANDA RASAKAN DITELAPAK TANGAN ANDA? DAN TERASA ADA APA DIANTARA TELAPAK TANGAN?Biasanya langsung terasa gampang sekali.

MELATIH KEPEKAAN PRANA:
SETELAH ANDA MELATIH TEHNIK DIATAS COBA BUKALAH TELAPAK TANGAN KIRI ANDA LALU KIRA2 DALAM JARAK 10CM ARAHKAN JARI TELUNJUK TANGAN KANAN KE TELAPAK TANGAN KIRI.
BAYANGKAN DARI TELUNJUNG JARI KANAN ADA SINAR LASER YANG MENEMBAK KE TANGAN KIRI,APA YANG TERASA DITELAPAK TANGAN KIRI?
COBA GERAK2KAN JARI TELUNJUK ANDA DG PELAN.
APAKAH RASA YANG DITELAPAK TANGAN KIRI MENGIKUTI GERAKAN JARI TELUNJUK TANGAN KANAN?

MENYERAP ENERGI ALAM.
CARANYA: Rentangkan salah satu tangan lurus keatas dg telapak tangan terbuka.Pejamkan mata.Niatkan energi apa yang mau diserap misalkan energi tumbuhan.Bayangkan telapak tangan ada lobang lingkaran lalu ada cahaya hijau masuk melalui lobang bulat ditelapak tangan tadi.Rasakan scr terus menerus dan rasakan sensasinya.

MELATIH KEPEKAAN TUBUH HALUS.
Latihan ini membutuhkan 1 teman.
Hal ini juga jawaban dari pertanyaan kenapa penyembuhan jarak jauh bisa terjadi.
CARANYA:
Anda dan teman anda saling duduk berhadapan.Lalu bukalah kedua telapak tangan anda jg telapak tangan teman.Tangan anda berhadapan dg telapak tangan teman jaraknya sekitar 10cm-15 cm.Lalu bayangkan dari telapak tangan anda memancar cahaya masuk ke telapak tangan teman.Pertahankan beberapa saat.
Dan tanya teman anda apa yg dia rasakan?
Kalau teman anda merasakan ada sensasi dilanjutkan latihan berikutnya.Ambil jarak antara anda dan teman anda berjauhan.Jaraknya bebas 50km jg boleh.Teman diberitahu agar tenang sejenak.Lalu anda pejamkan mata bayangkan bayangan diri anda saling berhadapan dg teman anda atau persis latihan saling berhadapan diatas tadi.Lalu bayangkan dari bayangan anda telapak tangan anda memancar cahaya menuju keteman anda yg seolah2 saling berhadapan tadi.Ingat yg memancarkan cahaya tubuh fisik kita tapi bayangan diri kita.Mau latihan santet jg boleh tp santet iseng silahkan diotak atik sendiri.Setelah bertahan beberapa saat coba tanya teman anda yg anda ajak latihan dg jarak berjauhan tadi.Apa yg dia rasakan?Kalau dia merasakan sesuatu sensasi itulah sistem kerja energi penyembuhan jarak jauh.Bisa dilanjut senam tubuh halus anda cukup diam ditempat tp tubuh bisa berkeringat.Silahkan diotak atik sendiri gampang sekali.