Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

0

Alam begitu Bijaksana


pagi ini begitu cantik dan romatis . . .
ingin ku nikmati dengan sang bidadari malam,
tapi malam tlah usai dengan begitu cepatnya,
dilenyapkan oleh sekali mata terpejam,,,

kurindu bulan,
alam menyiapkan mentari,

kurindu bintang,
alam memberikan langit yang biru,

ku rindu sejuknya malam,
alam menyiapkan hangatnya sinar matahari,

alam menyiapkan melebihi dari apa yang aku mau,
terimakasih . . .

saat ini,
ku merindu seorang pujaan hati,
. . . .
ku tunggu, dan kupercaya,
alam sudah menyiapkan lebih dari apa yang aku mau,

ku menanti jawaban alam,
dan ku biarkan sang waktu yang memutuskan,,
pasti dan terjadi,
karena ku tahu, alam begitu bijaksana . . .
trimakasih alam . . .


0

aku KEMBALI


aku berkuasa dibawah kehendak TUHAN, maka terjadiah apa yang seharusnya terjadi...
ku ikhlaskan untuk melepas jiwaku untuk kembali, menuju KEDAMAIAN yang ABADI...
ragaku, duniawiku, dan egoku menjadi lenyap berbaur dengan hangatnya CINTA...
PENGUASA SEMESTA yang Agung, aku kembalikan semua yang Engkau punya dan yang Engkau telah titipkan . . .

diantara LANGIT dan BUMI,
aku menangis dan tetawa tapi tak kuliahat keabadian itu...
kian munafik jika aku terus bertahan,
datanglah!! owhh HAMPA,
ku ijinkan semua ini MUSNAH dengan SANG WAKTU.

selamat tidur, ragaku...
hari kebangkitan itu ku tunggu, indahnya SANG MENTARI ku yakini membawa CINTA kembali,
untuk KEBAHAGIAAN semua mahluk...
damai, DAMAI dan damailah...

0

Silsilah Mpu Bharadah


Tersebutlah di kawasan Jawa, ada pendeta maha sakti bernama Danghyang Bajrasatwa. Ada putranya Iakilaki seorang bernama Danghyang Tanuhun atau Mpu Lampita, beliau memang pendeta Budha, memiliki kepandaian luar biasa serta bijaksana dan mahasakti seperti ayahnya Danghyang Bajrasatwa. Ida Danghyang Tanuhun berputra lima orang, dikenal dengan sebutan Panca Tirtha. Beliau Sang Panca Tirtha sangat terkenal keutamaan beliau semuanya.

Beliau yang sulung bernama Mpu Gnijaya. Beliau membuat pasraman di Gunung Lempuyang Madya, Bali Timur, datang di Bali pada tahun Isaka 971 atau tahun Masehi 1049. Beliaulah yang menurunkan Sang Sapta Resi - tujuh pendeta yang kemudian menurunkan keluarga besar Pasek di Bali. 

Adik beliau bernama Mpu Semeru, membangun pasraman di Besakih, turun ke Bali tahun Isaka 921, tahun Masehi 999. Beliau mengangkat putra yakni Mpu Kamareka atau Mpu Dryakah yang kemudian menurunkan keluarga Pasek Kayuselem. 

Yang nomor tiga bernama Mpu Ghana, membangun pasraman di Dasar Gelgel, Klungkung datang di Bali pada tahun Isaka 922 atau tahun Masehi 1000. 

Yang nomor empat, bernama Ida Empu Kuturan atau Mpu Rajakretha, datang di Bali tahun Isaka 923 atau tahun Masehi 1001, membangun pasraman di Silayukti, Teluk Padang atau Padangbai, Karangasem. 

Nomor lima bernama Ida Mpu Bharadah atau Mpu Pradah, menjadi pendeta kerajaan Prabu Airlangga di Kediri, Daha, Jawa Timur, berdiam di Lemah Tulis, Pajarakan, sekitar tahun Masehi 1000.

Beliau Mpu Kuturan demikian tersohornya di kawasan Bali, dikenal sebagai Pendeta pendamping Maharaja Sri Dharma Udayana Warmadewa, serta dikenal sebagai perancang pertemuan tiga sekte agama Hindu di Bali, yang disatukan di Samuan Tiga , Gianyar. Beliau pula yang merancang keberadaan desa pakraman - desa adat serta Kahyangan Tiga - tiga pura desa di Bali, yang sampai kini diwarisi masyarakat. Demikian banyaknya pura sebagai sthana Bhatara dibangun di Bali semasa beliau menjabat pendeta negara, termasuk Sad Kahyangan serta Kahyangan Jagat dan Dhang Kahyangan di kawasan Bali ini. Nama beliau tercantum di dalam berbagai prasasti dan lontar yang memuat tentang pura, upacara dan upakara atau sesajen serta Asta Kosala - kosali yang memuat tata cara membangun bangunan di Bali. Tercantum dalam lempengan prasasti seperti ini

"Ida sane ngawentenang pawarah - warah silakramaning bwana rwa nista madhya utama. lwirnya ngawangun kahyangan, mahayu palinggih Bhatara - Bhatari ring Bali lwirnya Puseh desa Walyagung Ulunswi Dalem sopana hana tata krama maring Bali, ayun sapara Bhatara lumingga maring Sad Kahyangan, neher sira umike sila krama" yang artinya: Beliau Mpu Kuturan yang mengadakan aturan tentang tatacara di dunia ini yang berhubungan dengan mikro dan makrokosmos dalam tingkat nista madya utama (sederhana, menengah dan utama), seperti membangun pura kahyangan, menyelenggarakan upacara sthana Bhatara-bhatari di Bali. Seperti Pura Puseh Desa, Baleagung, Ulunswi, Dalem, dan karena ada tata cara di Bali seperti itu berkenanlah para Bhatara bersthana di Sad Kahyangan, karena beliau yang mengadakan tata aturan tersebut.

Adiknya bernama Danghyang Mpu Bharadah mempunyai putra Iaki-laki dan keutamaan yoga beliau bernama Mpu Bahula. Bahula berarti utama. Kepandaian dan kesaktian beliau di dunia sama dengan ayahandanya Mpu Bharadah. Beliau memperistri putri dari Rangdeng Jirah - janda di Jirah atau Girah yang bernama Ni Dyah Ratna Manggali. Kisah ini terkenal dalam ceritera Calonarang. Beliau Empu Bahula berputra Iaki bernama Mpu Tantular, yang sangat pandai di dalam berbagai ilmu filsafat. Tidak ada menyamai dalam soal kependetaan, sama keutamaannya dengan Mpu Bahula, ayahandanya. Mpu Tantular adalah yang dikenal sebagai penyusun Kakawin Sutasoma di mana di dalamnya tercantum "Bhinneka Tunggal lka" yang menjadi semboyan negara Indonesia. Beliau juga bergelar Danghyang Angsokanata. Keberadaan beliau di Bali diperkirakan sejaman dengan pemerintahan raja Bali, Sri Haji Wungsu pada tahun Masehi 1049.

Ida Mpu Tantular atau Danghyang Angsokanata, berputra empat orang semuanya Iaki-laki. Yang sulung bernama Mpu Danghyang Panawasikan. Yang nomor dua bergelar Mpu Bekung atau Danghyang Siddhimantra. Yang nomor tiga bernama Mpu Danghyang Smaranatha. Yang terkecil bernama Mpu Danghyang Soma Kapakisan.

Ida Danghyang Panawasikan, bagaikan Sanghyang Jagatpathi wibawa beliau, Ida Danghyang Siddhimantra bagaikan Dewa Brahma wibawa serta kesaktian beliau. 

Ida Danghyang Asmaranatha bagaikan Dewa Manobawa yang menjelma, terkenal kebijaksanaan dan kesaktian beliau, 

serta Danghyang Soma Kapakisan, yang menjadi guru dari Mahapatih Gajahmada di Majapahit, bagaikan Dewa Wisnu menjelma, pendeta yang pandai dan bijaksana. Ida Danghyang Panawasikan memiliki putri seorang, demikian cantiknya, diperistri oleh Danghyang Nirartha.

Ida Danghyang Smaranatha, memiliki dua orang putra, 
yang sulung bernama Danghyang Angsoka, berdiam di Jawa melaksanakan paham Budha. 
Adik beliau bernama Danghyang Nirartha, atau Danghyang Dwijendra, Peranda Sakti Wawu Rawuh dan dikenal juga dengan sebutan Tuan Semeru. Beliau melaksanakan paham Siwa, serta menurunkan keluarga besar Brahmana Siwa di Bali yakni, Ida Kemenuh, Ida Manuaba, Ida Keniten, Ida Mas serta Ida Patapan. 
Danghyang Angsoka sendiri berputra Danghyang Astapaka, yang membangun pasraman di Taman Sari, yang kemudian menurunkan Brahmana Budha di Pulau Bali.

Ida Danghyang Soma Kapakisan yang berdiam di kawasan kerajaan Majapahit. berputra Ida Kresna Wang Bang Kapakisan, ketika Sri Maharaja Kala Gemet memegang kekuasaan di Majapahit. Ida Kresna Wang Bang Kapakisan mempunyai putra empat orang, semuanya diberi kekuasaan oleh Raja Majapahit, yakni beliau yang sulung menjadi raja di Blambangan, adiknya di Pasuruhan, yang wanita di Sumbawa. dan yang paling bungsu di kawasan Bali. Yang menjadi raja di Bali bernama Dalem Ketut Kresna Kapakisan menurunkan para raja yang bergelar Dalem keturunan Kresna Kepakisan di Bali. Dalem Ketut Kresna Kepakisan datang di Bali, menjadi raja dikawal oleh Arya Kanuruhan, Arya Wangbang - Arya Demung, Arya Kepakisan, Arya Temenggung, Arya Kenceng. Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Manguri, Arya Pangalasan, dan Arya Kutawaringin, Arya Gajah Para serta Arya Getas dan tiga wesya: Si Tan Kober, Si Tan Kawur, Si Tan Mundur. Ida Dalem beristana di Samprangan, didampingi oleh l Gusti Nyuh Aya di Nyuh Aya sebagai mahapatih Dalem. Tatkala itu Ida Dalem memerintahkan para menterinya untuk mengambil tempat masing-masing. Ida Arya Demung Wang Bang asal Kediri di Kertalangu, Arya Kanuruhan di Tangkas, Arya Temenggung di Patemon, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Dalancang di Kapal,

Arya Belog di Kaba-Kaba, Arya Kutawaringin di Klungkung, Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas di Toya Anyar, Arya Belentong di Pacung, Arya Sentong di Carangsari, Kriyan Punta di Mambal, Arya Jerudeh di Tamukti , Arya Sura Wang Bang asal Lasem di Sukahet, Arya Wang Bang asal Mataram tidak berdiam di mana-mana. Arya Melel Cengkrong di Jembrana, Arya Pamacekan di Bondalem, Sang Tri Wesya: Si Tan Kober di Pacung, Si Tan Kawur di Abiansemal dan Si Tan Mundur di Cegahan Demikian dikatakan di Babad Dalem.

sumber : babadbali.com

0

Naskah Ceritera Calon Arang dari Zaman Raja Airlangga


Naskah lontar yang berisi Ceritera Calon Arang itu ditulis dengan aksara Bali Kuna. Jumlahnya empat naskah, asing-masing bernomor Godex Oriental 4561, 4562, 5279 dan 5387 (lihat Catalogus Juynboll II. P. 300-301; Soewito Santoso 1975; 11-12). Meskipun aksaranya Bali Kuna, tetapi bahasanya Kawi atau Jawa Kuna. Naskah yang termuda no. 4561, isinya sangat membosankan menurut Soewito Santoso. Beberapa bagian dari naskah 4562-5279 dan 5287 tidak lengkap sehingga dengan tiga naskah ini dapat saling melengkapi. Sebenarnya naskah no. 5279 dan 5287 merupakan satu naskah; naskah no. 5279 berisi ceritera bagian depan, sedangkan no. 5387 berisi ceritera bagian belakang. Naskah tertua no. 5279 berangka tahun 1462 Saka (1540 M). Semua naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal – Land – en Volkenkunde van Ned. Indies di Leiden, Belanda.


Naskah Calon Arang pernah diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka (lihat “De Calon Arang” dalam BKI 82. 1926: 110-180) dan pada 1975 diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Dr. Soewito santoso (lihat “Calon Arang Si Janda Dari Girah”, Balai Pustaka 1975). Uraian di bawah ini disarikan dari tulisan Dr. Soewito Santoso tersebut.



Latar Belakang Sejarah

Raja Airlangga (1006-1042 M) memerintah di Jawa Timur sejak 1021 sesuai dengan isi prasati Pucangan (Calcutta). Pusat kerajaan Airlangga berpindah-pindah karena diserang oleh musuh. Prasasti Terep (1032 M) menyebutkan raja Airlangga lari dari istananya di Watan Mas ke Patakan karena serangan musuh. Prasasti tidak menyebutkan bahwa keraton Airlangga ada di Daha atau Kediri, tetapi naskah Calon Arang ini menyebutkan keraton Airlangga ada di Daha (Kediri). 



Dalam masa Airlangga agama Budha. Di antara sekte-sekte agama Budha ada Sekte Tantrayana yang ajarannya lewat jalan pintas agar umatnya segera mencapai moksa. Upacara yang dilakukan antara lain menari-nari di atas kuburan dengan iringan musik (instrumen kangsi dan kemanak) sambil minum darah dan makan daging mayat yang dilakukan pada malam hari bertelanjang badan. Ajaran ini kemudian juga dianut oleh raja Kertanegara (1268-1292 M) dari Singasari. Dengan cara demikian terjadilah pertemuan jiwa antara pelaku upacara dengan dewanya (lihat juga naskah Tantu Panggelaran disertasi dari Th. Pigeud 1924). Ajaran Tantra dimasudkan untuk kebaikan bukan kejahatan.



Ringkasan Ceritera

Ceritera ini terdiri atas dua badian: yang pertama tentang Calon Arang, yang kedua tentang pembagian wilayah kerajaan Airlangga kepada dua puteranya.



Di desa Girah tinggal seorang janda sakti bernama Calon Arang bersama dengan anak gadisnya yang sudah dewasa bernama Ratna Manggali. Karena orang takut kepada sang janda, maka tak ada laki-laki yang bernai melamar Ratna Manggali. Mengetahui hal ini, Calong Arang marah dan menenung rakyat sebagai hukuman. Caranya ia melakukan upacara yang mengerikan di atas kuburan sambil menyampaikan sesaji. Dewi Bhagawati (mungkin identik dengan Dewi Durga) turun dan mengabulkan permohonan Calon Arang. Wabah penyakit menyebar, jika orang sakit pada pagi hari, sorenya mati. Korban terlalu banyak. Raja Airlangga mendapat laporan yang menyedihkan ini dan mencoba mencari jalan untuk memusnahkan penyakit dan penyebabnya.



Mula-mula pasukan tentara dikirim ke Girah untuk membunuh Calon Arang tetapi tidak berhasil karena sang janda sangat sakti. Beberapa orang utusan raja itu terbunuh. Calon Arang semakin marah dan semakin keras pula tenungnya ditebarkan sehingga korban rakyat semakin banyak. Raja terus berupaya sedangkan para pendeta dan resi di istana berdoa untuk mencari petunjuk. Turunlah petunjuk bahwa hanya Mpu Bharadah dari Desa Lemah Tulis yang dapat mengatasinya. Raja mengirim utusan kepada Mpu Bharadah untuk meminta tolong. Permohonan diterima lalu Mpu Bharadah menyuruh muridnya bernama Bahula untuk menghadap raja dengan maksud agar upaya mengawini Ratna Manggali dapat dibantu urusan mas kawinnya. Raja setuju dan Bahula pergi menghadap Calon Arang untuk melamar Ratna Manggali. Lamaran diterima lalu kawinlah Bahula dengan Ratna Manggali dan tinggallah Bahula di rumah mertuanya. Dari Ratna Manggali itu Bahula tahu bahwa Calon Arang selalu membaca kitab dan tiap malam melakukan upacara di kuburan. Bahula pulang ke Lemah Tulis sambil membawa kitab dan menceriterakan kebiasaan Calon Arang kepada Mpu Bharadah. Bahula segera disuruh kembali ke Girah sebelum diketahui oleh mertuanya. Mpu Bharadah menyusul ke Girah. Dalam perjalanan ke Girah, Bharadah menyembuhkan orang-orang sakit dan menghidupkan orang mati yang mayatnya masih utuh, tetapi jika mayatnya rusak tidak dapat dihidupkan lagi.



Di kuburan Desa Girah bertemulah Bharadah dengan Calon Arang. Bharadah memperingatkan Calon Arang agar menghentikan tenungnya karena terlalu banyak kesengsaraan yang diderita oleh rakyat. Calon Arang bersedia menuruti Bharadah asalkan ia diruwat oleh Bharadah untuk melebur dosa-dosanya. Bharadah tidak mau meruwatnya karena dosa Calon Arang terlalu besar. Terjadilah pertengkaran dan Calon Arang mencoba membunuh Bharadah dengan menyemburkan api yang keluar dari matanya. Bharadah lebih sakti dan sebaliknya Calon Arang mati dalam keadaan berdiri. Kemudian Calon Arang dihidupkan lagi oleh Bharadah untuk diberi ajaran kebenaran agar bisa mencapai moksa. Calon Arang merasa bahagia karena sang pendeta mau mengajarkan jalan ke surga. Setelah selesai ajaran-ajaran itu disampaikan. Calon Arang dimatikan lagi lalu mayatnya dibakar. Dua murid Calon Arang bernama Woksirsa dan Mahisawadana dijadikan murid Bharadah.



Bharadah menyuruh Bahula untuk melaporkan pekerjaannya kepada raja di Istana. Raja dan isteri beserta pengiringnya menuju ke Girah untuk mengucapkan terima kasih kepada Mpu Bharadah, Raja kembali ke istana. Bharadah mencucikan Girah dan membangun punden untuk para Pendeta. Bharadah menyusul raja ke istana. Raja ingin menjadi murid sangat pendeta lalu diadakan upacara. Raja sudah mengeluarkan biaya upacara lalu diajarkan catur asrama, yaitu empat tataran kehidupan.. Bharadah juga minta agar tradisi lama dihidupkan lagi, yaitu Dewasasana, Rajasasana, Rajaniti, Rajakapakapa, Munasasasana, Resisasana dan Adhigama.



Pembagian Kerajaan Airlangga

Ceritera ini tidak relevan dengan Calon Arang, tetapi relevan dengan peranan Mpu Bharadah ketika Airlangga mendapat kesulitan untuk memberi kedudukan kepada dua puteranya tercinta. Intinya kerajaan Airlangga dipecah dua menjadi Kadiri dan Janggala; Kadiri untuk anak yang muda dan Janggala untuk anak yang tua. Peristiwa ini juga disebut dalam prasasti Aksobhya (1289 M), tetapi nama Kadiri disebut Pangjalu.



Naskah ontar Calon Arang yang berlatar belakang sejarah masa Airlangga ini penting untuk memperjelas gambaran mengenai tatacara kerajaan dan upacara-upacara keagamaan. Hal-hal demikian tidak disebutkan dalam prasasti, sedangkan pada naskah lain yang lebih muda gambarannya dikhawatirkan mengandung bias terlalu jauh.



Sumber:

Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

0

Strategi Mpu Bharadah mengalahkan Calon Arang


Strategi Mpu Bharadah mengalahkan Calon Arang

Calon Arang adalah seorang tokoh dalam cerita rakyat Jawa dan Bali dari abad ke-12. Tidak diketahui lagi siapa yang mengarang cerita ini. Salinan teks Latin yang sangat penting berada di Belanda, yaitu di Bijdragen Koninklijke Instituut. 


Kisah
Diceritakan bahwa ia adalah seorang janda pengguna ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Calon Arang mempunyai seorang puteri bernama Ratna Manggali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya. Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga. Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul.

Raja Airlangga yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan penasehatnya, Empu Baradah untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah lalu mengirimkan seorang prajurit bernama Empu Bahula untuk dinikahkan kepada Ratna. Keduanya menikah besar-besaran dengan pesta yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.

Calon Arang mempunyai sebuah buku yang berisi ilmu-ilmu sihir. Pada suatu hari, buku ini berhasil ditemukan oleh Bahula yang menyerahkannya kepada Empu Baradah. Saat Calon Arang mengetahui bahwa bukunya telah dicuri, ia menjadi marah dan memutuskan untuk melawan Empu Baradah. Tanpa bantuan Dewi Durga, Calon Arang pun kalah. Sejak ia dikalahkan, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang.

Perkembangan kisah
Cerita ini dapat dibagi dalam beberapa babak:

Prolog
Pada mulanya suasana di wilayah Kerajaan Daha sangat tentram. Raja di Daha bernama Airlangga. Di sana hidup seorang janda, yang bernama Calon Arang, yang mempunyai anak yang cantik, yang bernama Ratna Manggali. Mereka berdua tinggal di desa Girah, di wilayah Kerajaan Daha.

Awal Permasalahan
Meskipun cantik, banyak pria di kerajaan tersebut yang tidak mau meminangnya. Ini disebabkan oleh ulah ibunya yang senang menenung. Hal ini menyebabkan kemarahan Calon Arang. Oleh sebab itulah dia membacakan mantra tulah, sehingga muncul mala-petaka dahsyat melanda desa Girah, dan pada akhirnya melanda Daha. Tulah tersebut menyebabkan banyak penduduk daerah tersebut sakit dan mati. Oleh karena tulah tersebut melanda Daha, maka Raja Airlangga marah dan berusaha melawan. Namun kekuatan Raja tidak dapat menandingi kesaktian Calon Arang, sehingga Raja memerintahkan Empu Baradah untuk melawan Calon Arang.

Siasat Empu Baradah
Untuk mengalahkan Calon Arang, Empu Baradah mengambil siasat. Dia memerintahkan muridnya, Bahula, untuk meminang Ratna Manggali. Setelah menjadi menantu Calon Arang, maka Bahula mendapatkan kemudahan untuk mengambil buku mantra Calon Arang dan diberikan kepada Empu Baradah.

Epilog
Setelah bukunya didapatkan oleh Bahula, Calon Arang pun ditaklukkan oleh Empu Baradah.

sumber : wikipedia 

0

Pantulan Komunikasi Pikiran


Ketika anda merasakan perasaan-perasaan yang baik, perasaan itu adalah pantulan komunikasi dari semesta yang mengatakan, ”anda sedang memikirkan pikiran-pikiran yang baik” begitu pula ketika anda merasa buruk, anda menerima pantulan komunikasi dari semesta yang mengatakan, ”Anda sedang memikirkan pikiran-pikiran yang buruk.” 



Jadi, ketika anda merasa buruk, ini adalah komunikasi dari semesta yang berkata, ubah pikiran sekarang juga. Tercatat frekuensi negatif. Ubah frekuensi. Mulai menghitung mundur untuk perwujudan. Ketika anda merasa buruk atau merasakan emosi negatif, dengarkan sinyal yang anda terima dari semesta. Pada saat itu juga anda akan menghalangi kebaikan mendekati anda karena anda sedang berada di suatu frekuensi negatif. Ubahlah pikiran anda dan pikirkan sesuatu yang baik. Ketika perasaan-perasaan yang baik mulai datang, anda akan mengetahuinya karena anda sudah memindahkan diri ke suatu frekuensi yang baru, dan semesta telah mengukuhkannya dengan perasaan yang lebih baik. 

Anda mendapatkan tepat seperti yang anda rasakan, dan tidak terlalu tetap dengan apa yang anda pikirkan. Ini sebabnya mengapa orang cenderung semakin terperosot jika jari kakinya tersandung ketika ia bangun dari tempat tidur. Seluruh hari akan berjalan seperti itu. Mereka tidak memahami bahwa sekedar memindahkan emosi akan mengubah seluruh hari dan kehidupan. 

Jika anda memulai hari dengan baik dan berada dalam perasaan bahagia, menurut hukum tarik-menarik selama anda tidak membolehkan sesuatu mengubah suasana hati anda akan melanjutkan dengan menarik lebih banyak situasi dan orang yang memelihara perasaan bahagia itu. 

Kita semua pernah mengalami hari-hari atau saat-saat ketika keburukan dilanjutkan dengan keburukan lainnya. Reaksi berantai di mulai dengan satu pikiran, terlepas dati apakah anda menyadarinya atau tidak. Satu pikiran buruk menarik lebih banyak pikirn buruk, frekuensinya terkunci di tempatnya, dan akhirnya beberapa hal buruk terjadi. Kemudian ketika anda bereaksi terhadap suatu hal yang buruk, anda menarik lebih banyak hal buruk. Reaksi akn menarik hal-hal yang kurang lebih sama, dan reasi berantai harus terus terjadi sampai anda mengeluarkandiri dari frekuensi itu dan dengan sengaja mengubah pikiran-pikiran anda. 

Anda dapat memindahkan pikiran-pikiran anda ke apa yang anda inginkan, memerima peneguhan melalui perasaan-perasaan anda bahwa telah mengubah frekuensi, sehingga hukum tarik-menarik akan menangkap frekuensi baru itu dan mengirimkannya kembali kepada anda sebagai gambar-gambar baru hudup anda. Di sinilah anda dapat memanfaatkan perasaan dan menggunakannya untuk mempercepat perwujudan apa yang anda inginkan dalam hidup. 

Anda dapat sengaja menggunakan perasaan anda untuk memancarkan frekuensi yang lebih kuat lagi dengan menambahkan perasaan kepada apa yang anda inginkan. Saat ini juga anda dapat mulai merasa sehat. Anda dapat mulai merasa makmur. Anda dapat mulai merasakan cinta yang menyelimuti anda. Bahkan jika cinta itu tidak ada di sana. Yang akan terjadi adalah semesta akan mengiringi sesuai dengan jenis lagu anda. Semesta akan mewujud selaras dengan bentuk perasaan di dalam diri anda karena begitulah cara anda merasa. 

Jadi, apa perasaan anda saat ini? Berhentilah sejenak untuk memikirkan bagaimana perasaan anda. Jika anda merasa tidak terlalu baik dibandingkan yang anda inginkan, fokuskan perasaan yang anda rasakan di dalam diri dan tingkatkan terus perasaan tersebut. Ketika anda berfokus kuat pada perasaan anda, dengan berniat mengangkat diri, anda dapat dengan kuat meninggikan perasaan anda. Salah satu caranya adalah memejamkan mata (menutup diri dari gangguan), berfokus pada perasaan di dalam diri, dan tersenyum selama satu menit. 

Pikiran dan perasaan anda menciptakan hidup anda. 
Akan selalu begitu. Dijamin!!

Baca selengkapnya »

0

Sangkan Paraning Dumadi


Dalam hidup ini, manusia senantiasa diingatkan untuk memahami filosofi Kejawen yang 
berbunyi "Sangkan Paraning Dumadi". Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi? Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan Paraning Dumadi, maka kita akan mengetahuikemana tujuan kita setelah hidup kita berada di akhir hayat.


Manusia sering diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan mudik. Nah, mudik itulah yang menjadi pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita ini nantinya. 

Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak tembang dhandanggula warisan para leluhur yang sampai detik ini masih terus dikumandangkan. 

Kawruhana sejatining urip/ (ketahuilah sejatinya hidup)
urip ana jroning alam donya/ (hidup di dalam alam dunia)
bebasane mampir ngombe/ (ibarat perumpamaan mampir minum)
umpama manuk mabur/ (ibarat burung terbang) 
lunga saka kurungan neki/ (pergi dari kurungannya)
pundi pencokan benjang/ (dimana hinggapnya besok)
awja kongsi kaleru/ (jangan sampai keliru)
umpama lunga sesanja/ (umpama orang pergi bertandang)
njan-sinanjan ora wurung bakal mulih/ (saling bertandang, yang pasti bakal pulang)
mulih mula mulanya/ (pulang ke asal mulanya)

Kemanakah kita bakal 'pulang'? 
Kemanakah setelah kita 'mampir ngombe' di dunia ini? 
Dimana tempat hinggap kita andai melesat terbang dari 'kurungan' (badan jasmani) dunia ini? 
Kemanakah aku hendak pulang setelah aku pergi bertandang ke dunia ini? 
Itu adalah suatu pertanyaan besar yang sering hinggap di benak orang-orang yang mencari ilmu sejati. 

Yang jelas, beberapa pertanyaan itu menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang 
langgeng. Hidup di dunia ini hanya sementara saja. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita menyimak tembang dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh Raden Panji Natara dan digubah lagi oleh Bratakesawa yang bunyinya seperti ini: 

"Kowe padha kuwalik panemumu, angira donya iki ngalame wong urip, 
akerat kuwi ngalame wong mati; mulane kowe pada kanthil-kumanthil marang 
kahanan ing donya, sarta suthik aninggal donya."  

("Terbalik pendapatmu, mengira dunia ini alamnya orang hidup, akherat itu alamnya orang mati. Makanya kamu sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak mau meninggalkan alam dunia")

Pertanyaan yang muncul dari tembang Syech Siti Jenar adalah: 
Kalau dunia ini bukan alamnya orang hidup, lalu alamnya siapa?

Syech Siti Jenar menambahkan penjelasannya: 
"Sanyatane, donya iki ngalame wong mati, iya ing kene iki anane swarga lan naraka, tegese, bungah lan susah. Sawise kita ninggal donya iki, kita bali urip langgeng, ora ana bedane antarane ratu karo kere, wali karo bajingan." (Kenyataannya, dunia ini alamnya orang mati, iya di dunia ini adanya surga dan neraka, artinya senang dan susah. Setelah kita meninggalkan alam dunia ini, kita kembali hidup langgeng, tidak ada bedanya antara yang berpangkat ratu dan orang miskin, wali ataupun bajingan")

Dari pendapat Syech Siti Jenar itu kita bisa belajar, bahwa hidup di dunia ini yang serba berubah seperti roda (kadang berada di bawah, kadang berada di atas), besok mendapat kesenangan, lusa memperoleh kesusahan, dan itu bukanlah merupakan hidup yang sejati ataupun langgeng. 

Wejangan beberapa leluhur mengatakan: 
"Urip sing sejati yaiku urip sing tan keno pati". (hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak bisa terkena kematian). Ya, kita semua bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang muncul adalah, siapkah kita menghadapi hidup yang 
sejati jika kita senantiasa berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana? 

Ajaran para leluhur juga menjelaskan: 
"Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati, 
yen siro ora ngerti sampurnaning urip."
(mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna, 
jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna). 

Oleh karena itu, kita wajib untuk menimba ilmu agar hidup kita menjadi sempurna dan mampu meninggalkan alam dunia ini menuju ke kematian yang sempurna pula.


Siwa Yang Agung

Dewa Siwa merupakan aspek dari Yang Mahatinggi (Brahman Upanishad) yang terus menerus larut untuk menciptakan dalam proses siklus penciptaan, Pemeliharaan (pelestaria, dan peleburan alam semesta. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, Dewa Siwa adalah anggota ketiga dari Trinitas Hindu, dua lainnya adalah Dewa Brahma dan Vishnu.

Karena aktivitas kosmik Nya peleburan dan rekreasi, kata-kata perusak dan kehancuran telah keliru jika diasosiasikan dengan Dewa Siwa. Kesulitan ini muncul ketika orang gagal untuk memahami makna sebenarnya dari peran kosmik Nya. Penciptaan menopang dirinya dengan keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang berlawanan baik dan jahat. Bila keseimbangan ini terganggu dan kelangsungan hidup menjadi tidak mungkin, Dewa Siwa melarutkan alam semesta untuk penciptaan siklus berikutnya sehingga jiwa berevolusi dan memiliki kesempatan lain untuk membebaskan diri dari perbudakan dengan dunia fisik. Jadi, Dewa Siwa melindungi jiwa-jiwa dari rasa sakit dan penderitaan yang akan disebabkan oleh disfungsional semesta. Dalam analogi sebuah siklus, musim dingin sangat penting untuk musim semi muncul dan malam diperlukan untuk pagi untuk mengikuti. Untuk lebih memahami seperti digambarkan sebagai, seorang tukang emas yang tidak merusak emas ketika ia mencair perhiasan emas tua tidak dapat diperbaiki untuk membuat ornamen baru yang indah.

Dewa  Siwa adalah Dewa dengan rahmat dan kasih sayang. Ia melindungi bhakta dari kekuatan jahat seperti nafsu, keserakahan, dan kemarahan. Ia memberikan anugerah, rahmat dan membangkitkan menganugerahkan kebijaksanaan dalam umat-Nya. Simbolisme dibahas di bawah ini mencakup simbol-simbol utama yang umum untuk semua gambar dan foto Siwa dimuliakan oleh orang Hindu. Karena tugas dari Tuhan Siwa sangat banyak, Dia tidak dapat dilambangkan dalam satu bentuk. Untuk alasan ini gambar Siwa bervariasi secara signifikan dalam simbolisme mereka.
  • Tubuh ditutupi dengan berpakaian abu: melambangkan tubuh berpakaian aspek transendental Tuhan. Karena hal yang paling mengurangi menjadi abu bila dibakar, abu melambangkan alam semesta fisik. Abu pada tubuh berpakaian Tuhan Siwa menandakan bahwa adalah sumber dari seluruh alam semesta yang berasal dari-Nya, tetapi Dia melampaui fenomena fisik dan tidak terpengaruh oleh itu.
  • Kunci kusut: Tuhan Siwa adalah Master yoga. Tiga kunci kusut di kepala Tuhan menyampaikan gagasan bahwa integrasi energi fisik, mental dan spiritual adalah yang ideal yoga.
  • Ganga: Gangga (sungai Gangga) dikaitkan dengan mitologi Hindu dan merupakan sungai paling suci Hindu. Menurut tradisi, orang yang mandi di Gangga (dipuja sebagai Ibu Gangga) sesuai dengan upacara tradisional dan upacara pada kesempatan keagamaan dalam kombinasi dengan peristiwa astrologi tertentu, dibebaskan dari dosa dan mencapai pengetahuan, kemurnian dan kedamaian. Gangga, secara simbolis diwakili di atas kepala Tuhan dengan seorang wanita (Ibu Gangga) dengan sebuah jet air yang memancar dari mulutnya dan jatuh di tanah, menandakan bahwa Tuhan menghancurkan dosa, menghilangkan kebodohan, dan melimpahkan pengetahuan, kemurnian dan perdamaian di para bhakta.
  • Bulan sabit: ditampilkan pada sisi kepala Tuhan sebagai hiasan, dan bukan sebagai bagian integral dari wajah-Nya. Waxing dan memudarnya fenomena bulan melambangkan siklus waktu melalui penciptaan yang berkembang dari awal sampai akhir. Karena Tuhan adalah Realitas Abadi, Dia berada di luar waktu. Dengan demikian, bulan sabit hanya salah satu ornamen-Nya, dan bukan merupakan bagian integral dari-Nya.
  • Tiga mata: Tuhan Siwa, juga disebut Tryambaka Deva (harfiah, "bermata tiga Tuhan"), digambarkan sebagai memiliki tiga mata: matahari adalah mata kanan-Nya, bulan mata kiri dan api mata ketiga. Dua mata di kanan dan kiri menunjukkan aktivitas-Nya di dunia fisik. Mata ketiga di tengah dahi melambangkan pengetahuan spiritual dan kekuasaan, dan dengan demikian disebut mata kebijaksanaan atau pengetahuan. Seperti api, tatapan mata ketiga kuat Siwa annihilates jahat, dan dengan demikian penjahat takut mata ketiga-Nya.
  • Setengah-membuka mata: ketika Tuhan membuka mata-Nya, siklus baru penciptaan muncul dan ketika Ia menutup mereka, alam semesta larut untuk penciptaan siklus berikutnya. Setengah mata terbuka menyampaikan gagasan bahwa penciptaan akan melalui proses siklus, tanpa awal dan akhir. Tuhan Siwa adalah Master Yoga, sebagaimana Dia menggunakan daya yoga Nya untuk proyek alam semesta dari-Nya. Setengah membuka mata juga melambangkan postur yoga-Nya.
  • Kundalas (dua cincin telinga): dua Kundalas, Alakshya (berarti "yang tidak dapat ditunjukkan oleh tanda apapun") dan Niranjan (berarti "yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia") dalam telinga Tuhan menandakan bahwa Dia berada di luar persepsi biasa . Sejak kundala di telinga kiri Tuhan adalah dari tipe yang digunakan oleh perempuan dan satu di telinga kanan-Nya adalah dari tipe yang digunakan oleh laki-laki, ini Kundalas juga melambangkan Siwa dan Shakti (laki-laki dan perempuan) prinsip penciptaan.
  • Ular di leher: orang bijak telah menggunakan ular untuk melambangkan kekuatan yoga Dewa Siwa yang Dia melarutkan dan recreates alam semesta. Seperti seorang yogi, ular menimbun apa-apa, membawa apa-apa, membangun apa-apa, tinggal di udara saja untuk waktu yang lama, dan tinggal di pegunungan dan hutan. Racun dari ular, oleh karena itu, melambangkan kekuatan yoga.
  • Seekor ular (Naga Vasuki): ditampilkan meringkuk tiga kali sekitar leher Tuhan dan melihat ke arah sisi kanan-Nya. Tiga gulungan ular melambangkan masa lalu, sekarang dan masa depan - waktu dalam siklus. Tuhan memakai ular meringkuk seperti hiasan menandakan hasil penciptaan yang dalam siklus dan tergantung waktu, tetapi Tuhan sendiri melampaui waktu. Sisi kanan tubuh melambangkan aktivitas manusia berdasarkan pengetahuan, nalar dan logika. Ular melihat ke arah sisi kanan Tuhan menandakan bahwa hukum-hukum abadi Tuhan nalar dan keadilan mempertahankan ketertiban alam di alam semesta.
  • kalung Rudraksha: Rudra adalah nama lain Siwa. Rudra juga berarti "ketat atau tanpa kompromi" dan aksha berarti "mata." Rudraksha kalung dipakai oleh Tuhan menggambarkan bahwa Dia menggunakan hukum-hukum kosmik Nya tegas - tanpa kompromi - untuk mempertahankan hukum dan ketertiban di alam semesta. Kalung manik-manik ini memiliki 108 yang melambangkan unsur-unsur yang digunakan dalam penciptaan dunia.
  • Varda Mudra: tangan kanan Tuhan ditampilkan dalam melimpahkan anugerah dan berkat-berpose. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, Tuhan Siwa annihilates jahat, anugerah hibah, melimpahkan kasih karunia, menghancurkan kebodohan, dan membangkitkan kebijaksanaan dalam umat-Nya.
  • Trident (Trisula): tiga cabang trisula ditampilkan berdekatan dengan Tuhan melambangkan tiga kekuasaan-Nya mendasar (shakti) dari akan (iccha), tindakan (kriya) dan pengetahuan (jnana). Trisula juga melambangkan kekuatan Tuhan untuk menghancurkan kejahatan dan kebodohan.
  • Damaru (drum): drum kecil dengan dua sisi yang terpisah dari satu sama lain oleh struktur leher seperti tipis melambangkan dua negara benar-benar berbeda dari keberadaan, unmanifest dan memanifestasikan. Ketika damaru digetarkan, menghasilkan suara yang berbeda yang digabungkan bersama oleh resonansi untuk menciptakan satu suara. Suara yang dihasilkan dengan demikian melambangkan Nada, suara kosmik dari AUM, yang dapat didengar selama meditasi yang mendalam. Menurut Hindu, Nada adalah sumber penciptaan.
  • Kamandalu: panci air (Kamandalu) yang terbuat dari labu kering berisi nektar dan ditampilkan di tanah samping Shiva. Proses pembuatan Kamandalu memiliki makna rohani yang mendalam. Sebuah labu matang yang dipetik dari tanaman, buah adalah dihapus dan shell dibersihkan untuk mengandung nektar. Dengan cara yang sama, seseorang harus melepaskan diri dari keterikatan pada dunia fisik dan bersih dalam dirinya keinginan egoistik dalam rangka untuk mengalami kebahagiaan Diri, dilambangkan oleh nektar di Kamandalu.
  • Nandi: banteng berhubungan dengan Siwa dan dikatakan kendaraan-Nya. Banteng melambangkan kedua daya dan kebodohan. Tuhan Siwa menggunakan lembu jantan sebagai kendaraan menyampaikan gagasan bahwa Dia menghilangkan kebodohan dan kekuasaan melimpahkan kebijaksanaan pada umat-Nya. Banteng ini disebut Vrisha dalam bahasa Sansekerta. Vrisha juga berarti dharma (kebenaran). Jadi banteng ditampilkan di samping Shiva juga menunjukkan bahwa Dia adalah pendamping etemal kebenaran.
  • Tiger kulit: kulit harimau melambangkan energi potensial. Tuhan Shiva, duduk di atas atau memakai kulit harimau, menggambarkan gagasan bahwa Dia adalah sumber dari energi kreatif yang masih dalam bentuk potensial selama keadaan peleburan alam semesta. Dengan Kuasa Ilahinya, Tuhan mengaktifkan bentuk potensi energi kreatif untuk proyek alam semesta dalam siklus tak berujung.
  • Tanah Kremasi: Siwa duduk di tanah kremasi menandakan bahwa Dia adalah controller kematian di dunia fisik. Sejak kelahiran dan kematian yang siklik, mengendalikan satu berarti mengendalikan yang lain. Jadi, Tuhan Siwa dipuja sebagai pengendali utama kelahiran dan kematian di dunia fenomenal.

CINTA KASIH

Bagaikan seorang ibu yang mengasihi anak tunggalnya 
dengan kasih sayang tak kenal batas, amat luas, tak terbendung, tak terukur, dan
untuk itu, ia siap mengorbankan diri sendiri.
Berikanlah cinta kasihmu bagi semua makhluk,
ke timur, ke barat, ke utara, dan ke selatan,
ke atas dan ke bawah,
kian menyebar, meluas, tanpa batas, tak pernah berhenti, amat luas meliputi segalanya.
Murnilah cinta kasih seperti itu, tidak mengikat,
tak dimengerti oleh yang dungu,
namun dimengerti yang bijak dan yang tahu,
mereka mampu menghargai bagaikan emas murni’.


(Kassapa Thera)